Melawan Defisit

Oleh Dr. Eko Setio Budi,SE, MM -Dosen STIE Tribuana Bekasi

Neraca perdagangan Indonesia (NPI) kembali defisit pada bulan Oktober 2018 sebesar 1,82 miliar dollar AS. Ini terjadi karena impor Oktober 2018 tercatat 17,62 miliar dollar AS, sedangkan ekspor “hanya” 15,8 miliar dollar AS. Kondisi tersebut semakin menambah panjang defisit NPI dari Januari sampai Oktober yang mencapai 5,5 miliar dollar AS. Bahkan, defisit Oktober ini terbesar sepanjang Januari sampai Oktober.

Pada Januari NPI defisit 756 juta dollar AS dan terus bertambah sampai Oktober. Surplus terjadi hanya Juni sebesar 1,74 miliar dollar AS dan September 310 juta dollar AS. Defisit Oktober adalah 1,82 miliar dollar AS.

Impor migas lagi-lagi pemicu defisit neraca perdagangan kali ini. Angka neraca impor tumbuh 17,63 miliar dollar AS atau naik 20,60 persen pada Oktober 2018. Ini dipicu impor migas meningkat 26,97 persen. Angka impornya 2,91 miliar dollar AS. Sementara itu, impor nonmigas juga meningkat 19,42 persen. Total impor nonmigas 14,71 miliar dollar AS.

Defisit bukan hanya pada neraca perdagangan, namun juga pada transaksi berjalan. Bank Indonesia mencatat, kuartal III/2018 defisit transaksi berjalan atau current Account Deficit (CAD) sebesar 8,8 miliar dollar AS. Angka ini setara dengan 3,37 persen dari PDB. Angka ini juga lebih tinggi dari defisit pada kuartal II/2018 sebesar 8 miliar dollar AS (3,02 persen PDB).

Dengan perkembangan tersebut, secara kumulatif defisit neraca transaksi berjalan hingga kuartal III/2018 tercatat 2,86 persen dari PDB. Kondisi global dan kebijakan ekonomi negara lain disebut-sebut sebagai faktor penyebab defisit transaksi berjalan.

Salah satunya adalah normalisasi kebijakan sistem moneter di AS oleh Bank Sentral The Fed. Di antaranya, mengawasi suku bunga secara ketat dan program pembelian obligasi bulanan yang disebut quantitative easing (QE). Defisit neraca berjalan berkorelasi langsung dengan defisit NPI yang dipastikan akan semakin lebar, sebagaimana data defisit neraca perdagangan tersebut. Akibatnya, ini akan berdampak secara langsung pada perekonomian, khususnya investasi.

Transaksi berjalan memuat transaksi barang, jasa, pendapatan primer, dan pendapatan sekunder. Jika transaksi berjalan defisit terlalu tinggi, dibutuhkan transaksi finansial tinggi pula. Jika tidak mencukupi, simpanan di cadangan devisa akan terpakai. Dengan kondisi tersebut, rupiah akan mengalami tekanan karena kebutuhan dollar AS yang meningkat.

Dampak Langsung

Sementara itu, neraca pembayaran merupakan statistik yang merangkum transaksi ekonomi antara penduduk dan bukan penduduk dalam periode waktu tertentu.

Dampak langsung kedua deficit tersebut ada pada penurunan investasi. Badan Koordinasi Penanaman Modal menyebutkan, total investasi kuartal III tahun 2018 turun sebesar 1,6 persen dari kuartal III tahun 2017. Total investasi adalah 173,8 triliun.

Dari jumlah tersebut, porsi penanaman modal asing (FDI) tercatat sebesar 89,1 triliun rupiah atau turun 20,2 persen dibanding periode sama tahun 2017 sebesar 111,7 triliun rupiah. Tahun 2018 memang menjadi tren penurunan investasi seiring kecenderungan melebarnya defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan.

Pada kuartal I tahun 2018 sebesar 185,3 triliun rupiah, kuartal II tahun 2018 sebesar 176,3 triliun (turun sebesar 4,9 persen) dan kuartal III tahun 2018 sebesar 173,8 triliun (turun sebesar 1,6 persen). Dengan demikian, dari target investasi sebesar 765 triliun pada tahun 2018, sampai dengan kuartal III baru mencapai 70 persen.

Kondisi perekonomian demikian harus menjadi atensi pemerintah. Kondisi perekonomian nasional dengan tiga indikator tersebut tadatas (defisit NPI, CAD, dan investasi menurun) jelas tidak sehat, meskipun keparahan atau kedalamannya tidak begitu signifikan.

Hal ini terjadi karena sektor konsumsi masih tumbuh. Sampai kuartal III/2018, pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 5,17 persen secara year on year (yoy). Angka itu lebih tinggi dari kuartal III/2017 sebesar 5,06 persen, meski lebih rendah dari kuartal II 2018 (5,27 persen).

Sedang dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih berkontribusi paling besar terhadap struktur Produk Domestik Bruto (PDB) dengan kontribusi sebesar 55,26 persen. Indonesia juga cenderung gagap dalam membaca tren dan pola perdagangan dunia yang sangat dinamis saat ini. Ini baik yang disebabkan pemanasan global, perang dagang, atau krisis perekonomian di Turki.

Meskipun kondisi perekonomian dunia memang cukup sulit ditebak, trend pergerakan kondisi perekonomian global harus menjadi acuan pemerintah dalam melakukan tata kelola perekonomian. Hal ini baik dalam rangka pengelolaan neraca perdagangan maupun pengelolaan transaksi berjalan.

Akibatnya, diversifikasi produk dalam melakukan tata kelola kinerja ekspor dan impor sulit dilakukan pemerintah. Alhasil, peningkatan impor justru pada sektor migas yang notabene sektor konsumtif, bukan pada impor barang modal yang saat ini sangat dibutuhkan untuk mendorong peningkatan investasi dan penguranggan pengangguran.

Simak saja angka perumbuhan impor barang konsumsi yang meningkat sebesar 20,04 persen yoy. Sementara itu, bahan baku/penolong tumbuh 23,10 persen yoy. Sektor migas masih menjadi penyumbang utama defisit. Hal ini menggambarkan, konsumsi migas dalam negeri masih sangat tinggi dan memiliki ketergantungan terhadap impor.

Oleh sebab itu, keberanian pemerintah menjadi salah satu solusi untuk memangkas impor dan ketergantungan. Di antaranya, tentu dengan keberanian pemerintah menaikkan harga BBM, termasuk premium yang sempat dibatalkan, meskipun pada Rabu, 10 Oktober 2018 Menteri ESDM sudah mengumumkan kenaikan harga premium.

Dengan demikian, pemerintah harus segera mengupayakan langkah-langkah taktis dan strategis untuk menghentikan defisit, baik neraca perdagangan maupun transaksi berjalan. Bagaimanapun, defisit adalah “racun” yang berdampak langsung memperburuk perekonomian nasional seperti pengurasan cadangan devisa Negara. Hal itu juga memperlemah nilai tukar rupiah, memicu inflasi, serta terganggunya fundamental perekonomian nasional lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *